Ngademin Pegiat Teknologi

4 Tips Menghindari Penipuan Online dan Jangan Menjadi Korban

2 min read

4 tips menghindari penipuan online dan jangan menjadi korban

4 Tips Menghindari Penipuan Online dan Jangan Menjadi Korban

Akibat kurangnya kewaspadaan dan kepedulian terhadap keamanan data pribadi elektronik, penipuan online dengan social engineering sering terjadi.

Ilustrasi keamanan internet. (Teluk Pixar)

Caraseru.com – Jangan menjadi korban penipuan online, Xendit menawarkan tips untuk menghindarinya. Di bawah ini adalah rangkuman dari tim HiTekno.com dalam versi resmi dari tips yang dibagikan oleh Xendit untuk menghindari penipuan online.

Berkat kemajuan teknologi yang pesat selama satu dekade terakhir, hampir semua hal kini dapat dilakukan secara online, mulai dari transaksi perbankan dan transfer uang hingga belanja online.

Namun, di sisi lain, perkembangan fintech juga menyebabkan munculnya pola-pola baru kejahatan dunia maya seperti pencurian identitas dan meningkatnya tren serangan dunia maya seperti penipuan rekayasa sosial.

Menurut Indeks Keamanan Siber 2020, Indonesia memiliki indeks kejahatan dunia maya yang tinggi sebesar 0,62, lebih tinggi dari rata-rata global 0,54. Dalam hal risiko kejahatan dunia maya, Indonesia menempati urutan ke-59 dari 85 negara.

Selain itu, Biro Nasional Siber dan Cryptocurrency (BSSN) mencatat jumlah serangan siber mencapai 495,3 juta pada 2020, meningkat 41 persen dari 290,3 juta pada 2019. Modus penipuan yang paling umum adalah rekayasa sosial.

Rekayasa sosial adalah teknik manipulasi yang memanfaatkan kesalahan manusia atau menipu korban untuk mendapatkan informasi pribadi, hak akses, atau barang berharga.

Dalam kejahatan dunia maya itu sendiri, rekayasa sosial cenderung menargetkan pengguna yang tidak terlalu berhati-hati dalam melindungi data mereka.

Pola phishing ini dapat mengambil banyak bentuk, seperti pembajakan email dan phishing (menyamar sebagai otoritas tertentu).

Penipu sering berpura-pura sebagai institusi atau individu tepercaya, menipu korban untuk mengungkapkan data pribadi dan hak akses berharga lainnya.

Misalnya, email atau pesan teks yang mengelabui pengguna agar mengklik tautan yang berisi malware yang memudahkan penjahat mengambil alih akun korban atau mengakses informasi penting.

Akibat kurangnya kewaspadaan dan kepedulian terhadap keamanan data pribadi elektronik, penipuan online dengan social engineering sering terjadi.

Xendit, perusahaan payment gateway terkemuka di Indonesia, berupaya berperan dalam menciptakan ekosistem pembayaran digital yang lebih aman bagi semua pihak.

Kami berkomitmen untuk waspada dan mendorong masyarakat Indonesia untuk lebih berhati-hati dalam menghadapi upaya penipuan dari individu tertentu. Xendit juga akan meluncurkan lebih banyak inisiatif dalam kampanye pendidikan pencegahan penipuan yang diharapkan dapat mengurangi risiko penipuan di Indonesia” kata Jonathan Chong, kepala operasi keuangan dan risiko di Xendit.

Berikut adalah 4 tips Xendit yang dapat Anda lakukan untuk menghindari penipuan rekayasa sosial:

1. Teliti sebelum mengklik tautan

Seringkali, penipu akan mencoba memancing rasa ingin tahu korban atau mendorong rasa urgensi sehingga korban tidak memiliki kesempatan untuk meneliti tautan “jebakan”.

Pastikan Anda hanya mengklik tautan dari sumber resmi, nomor resmi, dan email resmi. Jika ragu, harap konfirmasikan penawaran dengan penyedia layanan sebelum mengambil tindakan apa pun.

2. Simpan informasi Anda dengan aman

Jangan pernah mengungkapkan informasi rahasia Anda, termasuk detail akun, ID pengguna, kata sandi, PIN, atau OTP, kepada siapa pun. Ingatlah bahwa bank atau perusahaan fintech tidak akan meminta Anda untuk memberikan informasi rahasia (PIN, kata sandi, kode OTP).

Verifikasi kepercayaan pihak yang Anda hubungi. Misalnya, jika Anda menerima SMS dari bank Anda tentang pemenang kontes, coba hubungi call center resmi atau akun media sosial resmi bank untuk memverifikasi ulang.

3. Bayar dengan metode yang aman

Pastikan Anda hanya melakukan transaksi online di website yang menggunakan protokol https. Anda dapat mencari tanda-tanda bahwa situs tersebut aman, seperti ikon kunci di bilah situs.

Bagi pembeli yang ingin membayar melalui transfer bank, perlu dicek kembali apakah nama rekening tersebut valid dan sesuai dengan nama perusahaan yang bersangkutan. Jika ragu, coba verifikasi akun menggunakan Cekrekening.id, situs database yang menyusun laporan penipuan tentang akun tertentu.

4. Waspadalah terhadap nomor asing yang memanggil Anda

Hati-hati terhadap kesalahan ejaan atau pemformatan, yang mungkin mengindikasikan pesan penipuan. Jangan pernah membalas email atau pesan teks yang tidak diminta. Penipu dapat menggunakan metode ini untuk mendapatkan informasi atau mengelabui korban agar mengambil tindakan.

Anda dapat mengabaikan pesan tersebut, dan jika Anda masih takut, Anda dapat memblokir dan melaporkannya. Aplikasi pihak ketiga seperti Whatsapp dan Instagram sering menggunakan laporan tersebut sebagai bahan untuk menonaktifkan akun tertentu.

Xendit bertindak sebagai gateway pembayaran, menjembatani pembayaran antara bisnis dan pembeli. Keamanan transaksi dan data adalah prioritas utama Xendit.

Sebagai perusahaan payment gateway terkemuka di industrinya, Xendit telah memperoleh izin dari Bank Indonesia dan berkomitmen untuk menciptakan ekosistem pembayaran yang aman dan transparan. Dengan tips ini, kami berharap dapat membantu meningkatkan literasi keuangan digital untuk memerangi penipuan online sehingga lebih banyak korban tidak dirugikan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.” kata Tessa Wijaya, COO dan salah satu pendiri Xendit.

Ngademin Pegiat Teknologi